Komunitas Home Decor Bandung Tularkan Motivasi Mendekorasi Hunian

Komunitas Home Decor Bandung Tularkan Motivasi Mendekorasi Hunian

382
0
BERBAGI
Komunitas Home Decor Bandung/ARMIN ABDUL JABBAR/PR

ADA banyak cara yang bisa dilakukan untuk mendapatkan hunian idaman sesuai dengan kepribadian dan selera sang pemilik rumah. Yang paling mudah, tentu dengan menyewa jasa desainer interior atau arsitek.

Akan tetapi, bagaimana jika mendekorasi rumah dilakukan dengan anggaran seminim mungkin, tempo sesantai mungkin, dan mendapatkan hasil sepersonal mungkin? Anggota Komunitas Home Decor Bandung punya jawabannya.

Berawal dari iseng-iseng belaka, Komunitas Home Decor Bandung (HDB) kini semakin berkembang. Baru hitungan bulan sejak didirikan, anggotanya sudah mencapai lebih dari 60 orang. Jumlah itu tentu tak termasuk pengikut akun resmi HDB, @homedecor_bandung di Instagram.

Tren konsep dekorasi rumah (home decor) yang dilakukan sen­diri menjadi penyebab mengapa komunitas semacam ini tumbuh subur. Belum lagi, campur tangan jejaring sosial seperti Instagram dan Pinterest yang memanjakan penggunanya dalam mencari ins­pirasi dekorasi hunian. Rasanya, dengan bekal inspirasi dari dunia maya tersebut semua orang hampir bisa mendekorasi huniannya sesuai dengan keinginan masing-masing meskipun tak memiliki latar belakang ilmu desain.

Salah seorang pendiri HDB, Agri Sintia Sari (30) mengatakan bahwa komunitas ini berawal dari tiga orang yang memiliki hobi sama, yaitu mendekorasi dan mempercantik rumah. Selain Agri, juga ada Liza Apriliani dan Betty Trihana. Mereka kemudian meng­ajak beberapa kawan lain yang juga memiliki hobi serupa untuk mengobrol di grup percakapan WhatsApp.

Mereka lalu mulai mengunggah foto hasil dekorasi sendiri ke akun Instagram masing-masing. Hasilnya cukup mengejutkan. Banyak orang yang merespons dengan menghadiahkan komentar atau sekadar ”like”. Pesan langsung (direct message) pun sering kali diterima seputar permintaan saran mengenai dekorasi rumah.

”Dari situ, jadi kepikiran kenapa enggak sekalian saja mendiri­kan komunitas. Peminatnya kan banyak, home decor juga lagi booming banget. Selain itu, bisa menambah teman, bertukar pikir­an mengenai home decor, juga mengadakan kegiatan yang ber­hubungan dengan mendekorasi,” ucap Agri ketika ditemui di kediamannya di Bumi Sariwangi, Kecamatan Parongpong, Kabupa­ten Bandung Barat, Rabu 10 Mei 2017 siang.

Agri awalnya juga tertarik dengan dekorasi shabby chic yang sedang digandrungi. Ketika memiliki kediaman baru, ia memutuskan untuk mendekorasi rumah.

”Awalnya cuma cari-cari inspirasi wallpaper aja. Pas cari di Ins­tagram, ternyata banyak juga ibu yang suka home decor,” kata Agri, seputar ihwalnya berkenalan dengan Liza dan Betty.

Setelah bergabung dalam HDB, mereka semakin keranjingan dalam mendekorasi rumah. Selain menyalurkan kreativitas, dekorasi bertujuan demi memiliki hunian yang nyaman dan unik, atau mendapatkan suasana baru. ”Supaya anak-anak dan suami tambah betah di rumah,” ujar ibu satu anak ini, lalu tersenyum.

Setiap bulan, anggota HDB menggelar pertemuan untuk sekadar bertatap muka atau menyelenggarakan kegiatan. Kegiatan tersebut bisa berupa diskusi langsung seputar home decor, workshop DIY (do it yourself) untuk membuat pernak-pernik home decor, hingga kegiatan sosial. Sisanya, anggota HDB lebih banyak bersua lewat dunia maya.

Yang dibicarakan tentu saja seputar home decor. Mulai dari peng­alaman mendekorasi rumah, meminta masukan sebagai inspirasi dekorasi rumah, bujet, tips membuat dekorasi dinding, aneka konsep dekorasi rumah, hingga informasi mengenai tempat membeli dan diskon perlengkapan yang berhubungan dengan dekorasi rumah.

”Seru banget jadinya karena jadi ketemu teman-teman baru yang punya hobi sama. Bisa konsultasi seputar home decor juga. Gratis, karena enggak pakai jasa desainer interior,” tutur pemilik akun Instagram agrie_sintia ini.

Restu suami

Tak seperti hobi perseorangan yang bisa begitu saja dilaksana­kan, mendekorasi rumah tentu lebih rumit daripada itu. Selain urusan dana yang kadang tak sedikit, persoalan restu suami sering menjadi ganjalan lantaran rumah juga dihuni anggota keluarga lain.

”Awalnya ya pasti harus kompromi dulu sama suami, misalnya, saya mau dekorasi rumah begini. Untungnya suami support aja sih, dan menyerahkan urusan dekorasi rumah ke saya,” kata Agri yang menghias kediamannya dengan dominasi warna pastel.

Hal serupa dirasakan Fitry Andriany (36). Persetujuan dari suami mutlak harus didapatkan sebelum memindahkan imajinasi dekorasi dalam hunian yang sebenarnya.

”Untungnya bujet enggak harus khusus sih karena sambil jalan aja,” ucapnya.

Inspirasi desain

Fitry mulai gemar mendekorasi rumah sejak empat tahun belakangan. Ketika memiliki rumah pertama, ia tentu termotivasi untuk menghias rumah agar asri dan nyaman ditempati.

”Dulu mah masih jarang yang share home decor di media sosial, paling kliping dari majalah aja. Makanya sekarang senang sekali gabung di sini karena bisa sama-sama share mengenai segala hal terkait dengan home decor,” kata pemilik akun Instagram fitry_andriany tersebut.

Keseruan yang ia rasakan, misalnya, sebelum menentukan pilih­an pernik dekorasi rumah. ”Misalnya, wallpaper ini sama itu lucuan mana ya? Atau, kalau mau konsep ini harus bagaimana. Nah, biasanya, yang lebih paham dan expert dalam menerapkan konsep itu di rumahnya, yang menjadi sasaran bertanya,” ucapnya.

Dari DIY Hingga Peluang Bisnis

Tak ada yang lebih menyenangkan dibandingkan dengan men­de­korasi hunian pribadi sesuka hati. Selain penyaluran kreativitas, kepuasan pun bisa didapat. Helma Sefti Fauzia (35) misalnya. Ibu dua anak ini membuat konsep dekorasi hunian bergaya eklektik.

”Awalnya suka aja kalau rumah rapi dan tertata. Lama-lama jadi punya ide untuk mempercantik rumah, jadinya ya seperti sekarang, konsepnya sesuka hati. Misalnya ruang televisi dan kamar anak monokrom, dapur tema oranye, kamar warna-warni ” kata Sefti.

Uniknya, dalam mendekorasi, Sefti tak hanya membeli hiasan atau furnitur yang sudah jadi. Warga Bumi Sariwangi ini sering kali memanfaatkan barang-barang yang sudah tak terpakai untuk mendapatkan hiasan atau furnitur baru.

Dia, misalnya, memanfaatkan kaus bekas yang sudah berlubang menjadi wadah kantung plastik. Ia membuat karpet dengan tampilan baru dari karpet usang. Sefti juga memberi tampilan baru pada rak yang monoton.

”Daripada beli yang sudah jadi, aku suka yang DIY, jadi bisa dibentuk sesuai dengan keinginan hati,” ucapnya.

Sefti merasa dengan membuat konsep dekorasi sendiri, ia jadi leluasa menentukan. Mulai dari anggaran, material apa yang dipakai, hingga gaya apa yang ingin digunakan.

”Misalnya, untuk satu item yang dibutuhkan, kita juga bisa meng­ukur kemampuan sendiri apakah bisa membeli atau tidak. Kalau tidak bisa, disiasati dengan cara yang lain, atau menabung sampai bisa membeli. Tidak ada deadline karena semua itu kita yang menentukan,” tuturnya.

Agri Sintia Sari (30) pun merasa demikian. Saking seringnya menerima direct message mengenai permintaan saran mendekorasi rumah, ia jadi ingin belajar mengenai desain interior dengan lebih serius.
”Soalnya, jadi sering dijadiin konsultan gratis kan, ya jadi kepikiran aja untuk lebih diseriusin jadi bisnis,” katanya.

Peluang bisnis

Tak hanya membuat sendiri pernik dekorasi rumah, banyak pula orang yang memutuskan untuk membeli jadi. Peluang tersebut dengan jeli ditangkap beberapa orang sebagai celah berbisnis.
Seperti Sri Lustia (33) yang kerap menawarkan produk home decor dari Turki. Sri yang awalnya menggandrungi pernak-pernik, jadi menemukan celah bisnis ketika banyak anggota yang mena­nyakan produk tersebut kepadanya.

”Awalnya cuma iseng nawarin kado dari teman suami yang enggak terpakai, ternyata malah banyak yang minat. Keuntungannya lumayan buat biaya mendekorasi rumah,” ucapnya.

Bahkan, warga Bumi Adipura ini hendak memutuskan untuk resign dari kantor berkat bisnis tersebut yang meluas. Hanya saja, di komunitas, ajang jual beli tersebut harus mengenal waktu. Di HDB, waktu yang disepakati sebagai market day yaitu setiap akhir pekan.

Salah seorang anggota yang merasa menemukan keasyikan dalam berbelanja pernak-pernik dekorasi rumah, misalnya Dessy Lusiawaty (39). Selain menemukan keluarga baru dengan hobi serupa, ia juga merasa tak lagi kesulitan berburu pernak-pernik rumah yang tersegmentasi.

”Ada yang menyediakan pernak-pernik yang dibutuhkan juga, jadi enggak susah-susah harus cari ke sana ke mari,” kata warga Permata Kopo, Kabupaten Bandung ini.

Soal anggaran, ia tidak menyiapkan dana khusus untuk mende­ko­rasi rumah. Apalagi, dekor yang dilakukan bersifat santai.

”Enggak selesai-selesai karena kalau ruangan yang satu udah rampung, pasti pengen ke ruangan yang lain. Selalu ada aja yang ingin diubah demi suasana baru,” ujarnya.***

Sumber: Pikiran Rakyat