Sedapnya Mi Ayam, dari Gerobak Biru sampai Berbahan Herbal

Sedapnya Mi Ayam, dari Gerobak Biru sampai Berbahan Herbal

332
0
BERBAGI

MI ayam, menu yang biasanya dijual dalam ge­ro­bak berwarna biru khas dan dijajakan di kaki lima atau berkeliling ini sudah dikenal akrab masyarakat. Seporsi mi ayam disajikan pada mangkuk khas berwarna putih dengan gambar ayam jago di depannya. Dalam semang­kuk mi ayam, ada mi basah yang identik dengan tekstur kenyal dan gurih. Jika ingin, aneka sayuran, biasanya sawi hijau, turut ditambahkan. Terakhir, semur ayam dan minyak sayur menjadi penyempurna.

Ciri khas lain dari mi ayam adalah penggunaan saus sambal dalam jumlah besar, juga kecap manis dan kecap asin. Semakin lengkap dengan tambahan lain se­perti kerupuk pangsit, ceker ayam, atau bakso. Bila suka pedas, ada sambal untuk meningkatkan selera makan, juga bawang goreng dan seledri.

Kota Wonogiri dikenal dengan kantong pembuat mi ayam yang masif. Jika ditelusuri, akar dari mi ayam berpangkal dari akulturasi kebudayaan dari Tiongkok, khususnya daerah selatan seperti kota-kota pelabuhan Fujian dan Guandong. Meskipun demikian, wujud dan cita rasa mi ayamnya berbeda dengan di ta­nah air.

Di Bandung, tak sulit menemukannya di setiap sudut kota. Hampir di setiap pusat keramaian dapat ditemukan pedagang mi ayam. Juga bila masuk ke kantong-kantong permukiman, banyak didapati penjual mi ayam keliling dengan gerobak.

Tak hanya populer sebagai kuliner kaki lima, pengusaha besar mi ayam pun memindahkan kuliner rakyat ini ke mal besar atau pertokoan modern. Meski demikian, selera orang tak sama.

Telur dan ceker

Bagi yang hobi wisata kuliner, boleh dicoba mi ayam khas gero­bak buatan Sriyanto (45). Sejak delapan tahun lalu, ia berjualan mi ayam di Jalan Kemuning, Kota Bandung. Sebetulnya, dia sudah berjualan mi ayam lebih lama lagi, tetapi menjajakannya berkeliling dengan gerobak.

”Karena capek, saya akhirnya mangkal di sini. Sampai sekarang,” ujar Yanto kepada tim FOOD@HOLIC.

Mi ayam buatannya dikenal dengan kehadiran semur telur dan ceker. Yanto membuat sendiri mi basahnya. ”Biar puas,” ucapnya.

Mi basahnya terbuat dari campuran terigu, telur, air, dan garam. Meskipun bahan pembuatnya sama, hasilnya bisa jadi berbeda. Mi buatan Yanto berbentuk bulat dengan diameter tak terlalu kecil. Kenyal dan lebih lembap.

Yang mantap dari mi ayam ini adalah sambalnya yang luar biasa. Jangan lupa tambahkan pangsit atau kerupuk daun bawang agar lebih sedap.

Bagi yang ingin menikmati mi ayam milik Yanto, harus bersiap sejak pukul 10.00. Biasanya, sekitar pukul 14.00 sudah ludes tak bersisa. Yanto tak berniat menambah kapasitas dagangannya.

Empat Varian Rasa

Mi ayam juga bisa dikreasikan dengan banyak rasa. Setidaknya itu yang diinginkan oleh Bober Cafe. Ada empat varian mi ayam dengan varian kekinian yang bisa dicoba pengunjung.

Keempatnya adalah mi ayam rica-rica, mi ayam seblak ceker, mi ayam blackpepper, dan mi ayam jamur. Menurut Idang Komara, chef di Bober Cafe, pemilihan keempat varian itu didasarkan tren kuliner yang tengah digandrungi.

Ia mengatakan, mi ayam khasnya ada pada racikan ayamnya. Dengan kreasi empat rasa ini, Idang berinovasi dengan cita rasa oriental dan lokal. Untuk varian rica-rica, misalnya, ia mengadopsi kuliner dari Manado yang terkenal dengan bumbu rica-ricanya.

Untuk khas oriental, ada blackpepper dan ayam jamur yang ter­inspirasi dari bakmi. ”Bedanya, pada bakmi mi dibuat sangat kering. Sementara itu, mi ayam diberi sedikit kuah,” ujarnya.

Mi ayam di kafe ini disajikan dengan kuah terpisah yang berisi bakso halus. Mi ayam seblak ceker salah satu varian yang unik. Menggabungkan konsep mi ayam dengan cita rasa kencur yang identik dengan seblak. Mi yang digunakan adalah jenis mi telur tipis dan keriting. Tekstur tak begitu kenyal, sebaliknya, lembut dan menyerap bumbu.

Meski mengambil varian rasa yang tengah tren, Idang punya ka­rakter sendiri. Ia memoles cita rasa bumbu untuk mi ayamnya dengan banyak modifikasi.

Misalnya, pada varian ayam jamur, ia tidak terlalu banyak menggunakan kecap asin. ”Saya pakai merek tertentu yang cukup strong. Agar lebih lembut, saya hanya pakai sedikit. Jadi, aromanya juga beda,” katanya.

Untuk varian blackpepper, ia memakai bumbu oyster dan kecap manis. Bumbu itu lantas digabungkan dengan potongan ayam dan disajikan dengan tambahan ceker serta pangsit.

Peluncuran mi ayam di kafe yang terletak di Jalan Riau, Bandung ini juga baru sepekan lalu. Markom Bober Cafe, Diaz mengatakan, pemilihan menu mi ayam didasarkan keinginan menyediakan menu dengan basis mi.

Dibuat dari Herbal Juga Bisa

Kelompok rempah yang memiliki khasiat untuk kesehatan disebut dengan herbal. Mendengar kata herbal, banyak orang yang langsung ingat pada jamu atau pengobatan alternatif. Padahal, peran herbal bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama untuk kuliner.

Pada mi ayam, misalnya, herbal juga bisa dikreasikan. Seperti yang dilakukan Dwipuspitasari dari Herbsay yang menjual menu mielay.

Saat disajikan, mielay nyaris serupa spageti dengan ayam panggang di atasnya. Ita sedikit terinspirasi dari konsep mi ayam. Satu porsi mi diberi topping olahan ayam kemudian dikucuri saus dan diberi pelengkap.

Herbal antanan digunakan Ita untuk membuat mi sendiri. Antanan atau pegagan (Centella asiatica) adalah herbal yang bisa meningkatkan stimulus pada otak agar tidak cepat pikun. Selain alasan khasiat, antanan juga dipakai karena menguatkan cita rasa pada mi yang dibuat dengan bahan utama terigu dan telur.

Untuk sausnya, Ita membuatnya dari campuran pasta kacang, kaldu rempah, kaldu ayam, serta pasta tomat. Dalam meracik saus mielay, Ita menggabungkan rempah khas Barat dan Timur dalam satu panci. Rempah seperti rosemary, paragon, thyme berbaur lebur dengan laja dan ketumbar.

Sebagai topping, Ita menggunakan ayam panggang utuh, bukan disuwir. Ayam ini dimarinasi dengan banyak rempah dan bumbu manis, kemudian dipanggang.

Jika mi ayam lain dilengkapi ceker ayam dan pangsit, mielay ra­cikan Ita ditemani asinan gula aren. ”Seperti salad saja, isinya kubis ungu, mentimun, dan wortel yang dicampur dengan gula aren dan asam jawa. Tujuannya menetralisasi rasa amis pada mielay,” katanya.

Sebagai penyempurna acara menyantap mielay, Ita menya­rankan agar menutupnya dengan minuman lemon serai. ”Bagus untuk menetralisasi lemak,” katanya. ***

Sumber: Pikiran Rakyat